1-2
SATU KOMENTAR, SERIBU LUKA; HENTIKAN CYBERBULLYING SEBELUM MENJADI BUDAYA

SATU KOMENTAR, SERIBU LUKA; HENTIKAN CYBERBULLYING SEBELUM MENJADI BUDAYA

Perkembangan media dan teknologi telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Bagi pelajar, teknologi memberikan banyak manfaat, seperti mempermudah mencari informasi, membantu proses belajar, serta memungkinkan komunikasi melalui media sosial. Namun di balik manfaat tersebut, teknologi juga memiliki sisi negatif. Salah satunya adalah cyberbullying, yaitu perundungan yang dilakukan melalui media digital.

Cyberbullying dapat terjadi melalui komentar, pesan, unggahan, grup percakapan, atau penyebaran foto dan video yang bertujuan mempermalukan seseorang. Hal yang terlihat sederhana bagi pelaku dapat menjadi pengalaman yang menyakitkan bagi korban. Karena dilakukan melalui teknologi, sebuah komentar bahkan dapat dilihat banyak orang dan menyebar dengan cepat.

Cyberbullying Yang Berawal Dari Candaan

Di grup kelas, ejek-ejekan kecil itu sudah biasa. Ada yang badannya kurus dipanggil dengan julukan tertentu, ada yang logat bicaranya beda langsung ditiru-tiru supaya lucu, ada juga yang fotonya diedit jadi meme lalu disebar ke grup lain. Kita anggap itu bumbu pertemanan. Toh yang berkomentar juga bukan orang asing, teman sekelas sendiri, jadi rasanya wajar-wajar saja.

Masalahnya, niat bercanda dan rasa sakit yang diterima itu dua hal yang berbeda. Yang membuat komentar mungkin hanya butuh lima detik untuk mengetik lalu langsung lupa. Tapi yang menerima komentar bisa terus terpikir semalaman, membuka HP lagi hanya untuk membaca ulang komentar itu, lalu bertanya-tanya dalam hati mengapa harus dirinya yang jadi bahan tertawaan.

 

Dampak Cyberbullying Bagi Pelajar

Efeknya bisa terlihat di banyak sisi kehidupan sekolah. Rasa percaya diri menurun, jadi minder setiap masuk kelas. Hubungan pertemanan merenggang, karena korban jadi sulit percaya kepada orang lain. Konsentrasi belajar buyar, karena pikiran masih tertuju ke komentar semalam. Ada juga yang jadi malas berangkat sekolah, mencari alasan izin terus-menerus supaya tidak bertemu dengan orang-orang yang mengejeknya.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebutkan bahwa “bullying is a leading risk factor for mental health conditions”, yang kurang lebih berarti perundungan, termasuk yang terjadi secara daring, adalah salah satu faktor risiko utama munculnya masalah kesehatan mental pada remaja (WHO, 2025). Dalam bahasa yang lebih sederhana, semakin sering seseorang menjadi sasaran ejekan, semakin berat pula beban yang harus ditanggungnya sendirian, mulai dari susah tidur, gampang cemas, sampai kehilangan semangat menjalani hari-hari di sekolah.

 

Mengapa Pelajar Papua Perlu Peduli?

Sebagian orang mungkin berpikir cyberbullying hanya masalah anak kota besar yang internetnya kencang dan media sosialnya ramai. Padahal kehidupan pelajar Papua sekarang juga dekat dengan media sosial, sama seperti pelajar di daerah lain. Sinyal memang kadang naik turun, tapi begitu ada jaringan, isi linimasa kita tidak jauh berbeda dengan anak SMA dari daerah lain.

Justru di sinilah nilai hidup yang kita pegang sejak kecil bisa menjadi kekuatan. Tong su tahu, hidup di Papua diajarkan untuk saling jaga, saling bantu, dan saling menghargai sesama saudara. Semangat tong sama-sama jaga teman itu bukan sekadar slogan, tapi cara hidup yang sudah lama dipegang oleh orang tua dan tetua kita. Nilai kebersamaan dan persaudaraan itu semestinya juga kita bawa ke dunia maya, bukan hanya berlaku di kampung atau di halaman sekolah.

UNICEF Indonesia sendiri pernah melakukan kajian di Sorong, Papua Barat, dan menemukan adanya jarak persepsi yang cukup jauh antara guru dan siswa soal keseriusan laporan perundungan di sekolah. Sebagian besar guru merasa sudah menanggapi serius setiap laporan yang masuk, tapi hanya sedikit siswa yang merasa laporannya benar-benar ditanggapi dengan serius (UNICEF Indonesia, 2020, bagian Prevalence of Bullying in Indonesia). Ini bukan data khusus tentang SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire, tapi cukup menjadi pengingat bagi sekolah-sekolah di Papua secara umum, bahwa penting membangun komunikasi yang lebih terbuka antara siswa dan guru soal perundungan, termasuk yang terjadi lewat media sosial.

 

Peran Siswa, Guru Dan Sekolah

Beberapa hal sederhana sebenarnya bisa kita mulai dari diri sendiri. Pikir dulu sebelum mengunggah atau berkomentar, tanyakan pada diri sendiri, kira-kira kalau komentar ini ditujukan kepada saya, saya akan menerimanya atau justru tersinggung. Kalau ada teman yang jadi bahan ejekan di grup, jangan ikut menyebarkan atau menambah komentar. Diam saja sudah membantu mengurangi keramaian yang menyakitinya, dan akan lebih baik lagi kalau kita berani mengingatkan supaya candaan itu dihentikan.

Kalau ada teman yang terlihat murung setelah menjadi sasaran komentar, coba dekati dan tanyakan kabarnya, jangan biarkan dia menghadapinya sendirian. Simpan juga bukti berupa tangkapan layar apabila memang terjadi perundungan yang serius, supaya bisa ditunjukkan kepada guru BK, wali kelas, atau orang tua saat dibutuhkan. Dan yang paling penting, jangan takut untuk bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya. Sekolah pun bisa ikut membangun budaya saling menghargai, misalnya lewat kelas literasi digital atau sekadar obrolan santai tentang etika bermedia sosial pada jam wali kelas.

 

 

Penutup

Teknologi sebenarnya tidak pernah menjadi masalah. HP, media sosial, dan aplikasi obrolan hanyalah alat. Yang menentukan alat itu menjadi berkat atau justru melukai orang lain adalah manusia yang memakainya, termasuk kita, para pelajar SMA yang setiap hari hidup berdampingan dengan layar.

Pada akhirnya, satu komentar mungkin hanya terucap atau tertulis dalam hitungan detik, tetapi luka yang ditinggalkannya belum tentu hilang secepat itu. Kita tidak pernah tahu seberapa berat perjuangan seseorang di balik senyumnya. Jadi, sebelum berbicara, pikirkan apakah kata-kata kita akan menjadi penyemangat atau justru menjadi luka. Karena satu komentar bisa menjadi awal dari seribu luka, tetapi satu kebaikan juga bisa menjadi alasan seseorang kembali percaya diri. Hentikan cyberbullying, sebelum luka yang kita anggap kecil menjadi luka yang terlalu dalam untuk dilupakan.

 

 

Daftar Pustaka

UNICEF Indonesia. (2020, Februari). Bullying in Indonesia: Key facts, solutions, and recommendations. UNICEF Indonesia. https://www.unicef.org/indonesia/media/5606/file/Bullying.in.Indonesia.pdf

UNICEF Indonesia, Safe Online, & Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2023). Pengetahuan dan kebiasaan daring anak di Indonesia: Sebuah kajian dasar 2023. UNICEF Indonesia. https://www.unicef.org/indonesia/child-protection/reports/online-knowledge-and-practice-children-indonesia-baseline-study-2023

World Health Organization. (2025, 8 Oktober). Mental health. WHO Newsroom. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-strengthening-our-response

World Health Organization. (2025, 1 September). Mental health of adolescents. WHO Newsroom. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait